Kamis, 30 November 2017

ML Bareng Sepupu Dan Tanteku Yang Nikmat

Susan baru saja pulang dari rumah Nina saat waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Melihat suasana rumah sedang kosong ia segera masuk kamar. Matanya tampak sembab menandakan ia baru saja menangis. Meskipun jauh-jauh hari Susan sudah merasakan perubahan sikap Ari, namun tetap saja kaget dengan keputusan kekasihnya itu untuk tidak meneruskan hubungan mereka lagi. Apalagi di telepon tadi, Ari yang mengatakan bahwa mereka tidak cocok seperti dibuat-buat saja. Tapi Susan juga bukan gadis yang lemah. Baginya, tidak ada alasan baginya untuk menjadi gadis yang cengeng di usianya yang telah menginjak delapan belas tahun.



Pintu kamar Susan tiba-tiba saja terbuka. Kepala Randy muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
“Baru datang, Kak?”, tanya Randy sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian. Randy berjalan acuh tak acuh.
“Iya..”, jawab Susan singkat. Pikirannya masih sumpek dengan kejadian tadi siang. Segera saja direbahkan badannya di kasur setelah mengganti baju perginya dengan daster tipis.
“Kok, lesu gitu.., Kenapa?”, Randy yang baru kelas dua SMP itu menghampiri Susan. Ia juga kemudian merebahkan badannya disamping kakaknya tersebut. Susan hanya diam saja seolah tidak mendengar pertanyaan adiknya. Matanya menerawang melihat langit-langit kamar. Randy pun akhirnya memperhatikan sepupunya tersebut. Susan memang benar-benar cantik. Kadang-kadang ia merasa lebih senang kalau Susan bukan saudaranya. Mungkin karena seringkali ia tanpa sadar mengagumi tubuh Susan. Entah mengapa akhir-akhir ini minatnya terhadap wanita begitu meningkat. Ia bahkan suka sekali melihat-lihat pose wanita di majalah kosmopolitan milik kakaknya itu. Biasanya ia jadi terangsang dan onani di kamar mandi.

“Sret..”, Sepersekian detik posisi tangan Susan bergerak memangku kepalanya sendiri dan tanpa ia sadari belahan baju di dadanya menjadi terbuka. Melihat hal demikian Randy jadi sedikit canggung. Ia kebingungan sekaligus menyukai pemandangan itu. Randy agak berdebar-debar ketika ia semakin jelas melihat lekuk buah dada kakaknya yang tampak ranum dan indah. Apalagi tampak tonjolan puting di balik daster tipis itu. Batang penisnya terasa sedikit mengeras.

Karena dorongan hasratnya, Randy memberanikan diri perlahan-lahan mendekati tubuh Susan. Ia merangkul pinggang kakaknya tersebut. Merasakan sentuhan di tubuhnya, membuat rasa sedih Susan semakin mendalam. Air matanya mulai keluar dan ia segera membalikkan badan membelakangi adiknya. Ia tidak mau menangis di hadapan Randy. Posisi demikian membuat Randy bisa merangkul Susan dengan leluasa dari belakang.
“Kamu cantik deh.., malam ini..”, ucap Randy tanpa sadar. Susan pun hanya diam saja. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ada orang yang menyayanginya.

Randy kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Susan. Gadis yang merasa sedang bersedih itu sedikit bergerak lebih mendekatkan badannya ke dalam pelukan Randy. Ia ingin ada orang yang menghiburnya disaat-saat seperti ini. Respon Susan ini membuat Randy berani menggerakan tangannya dengan lembut untuk menyentuh bagian bawah buah dada sepupunya. Susan hanya memejamkan mata saja. Posisi tubuh yang berhimpitan itu membuat pikiran Randy semakin tidak menentu. Apalagi batang penisnya yang berhimpitan dengan pantat Susan. Perlahan ia mulai meremas dengan halus buah dada sepupunya tersebut.

Susan pun dalam keadaan sedang sedih menjadi merasa sangat tenang karena adiknya seperti mengerti kesedihannya. Ia tahan terhadap seorang sepupu. Ia juga membiarkan telapak tangan Randy membelai-belai buah dadanya yang memang tidak memakai beha. Belaian Randy pada bagian tubuhnya yang sensitif tersebut membuat jantung Susan sedikit berdebar-debar. Tapi ia segera menganggap wajar sentuhan kasih sayang sepupunya tersebut.

Randy pun mulai berani menciumi bagian tengkuk leher Susan sambil memasukkan tangannya ke dalam daster Susan. Perasaan Susan menjadi sedikit tidak karuan. Ia mulai menyadari bahwa sentuhan sepupunya bukan lagi sentuhan kasih sayang, tapi di satu sisi ia amat menikmati sentuhan itu. Terutama remasan telapak tangan Randy terhadap puting susunya. Perasaan sedih yang sedang ia alami seperti berganti dengan keinginan untuk terus dibelai. Ia ingin menghentikan Randy, namun sentuhan itu membangkitkan perasaan lain dalam kesedihannya. Sentuhan-sentuhan halus itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Buah dadanya pun menjadi agak mengeras oleh karena sentuhan dan remasan lembut tangan Randy.
“Ran, mmh.., udah ah.., aku kegelian”, akhirnya Susan berusaha menyudahi aktivitas itu.
“Ah, aku kan sayang sama kamu”, sahut Randy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya. “Engh, badanku jadi lemas semua nih”, tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek. Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.


Randy tidak menghiraukan perkataan sepupunya tersebut, ia masih terus meremas-remas payudara Susan. Malah ia mulai memasukkan satu tangannya ke dalam celana dalam sepupunya. Bulu-bulu halus di kemaluan Susan pun terasa di telapak tangan Randy. Iapun menyentuh bibir vagina sepupunya itu. Susan menggelinjang. Nafasnya mulai tidak terkontrol. Kesadarannya pun mulai hilang. Sekilas ia hanya menyadari bahwa ia sedang dicumbui oleh sepupunya sendiri. Kemaluannya sudah mulai berdenyut-denyut.

Randy secara lembut namun penuh nafsu mulai merebahkan tubuh Susan. Kemaluannya seperti ingin membutuhkan sesuatu. Ditindihnya tubuh sepupunya dengan birahi yang mulai tidak terkontrol. Segera saja ia buka kancing daster sepupunya. Tampak dengan jelas kedua belah buah dada sepupunya yang indah itu dengan putingnya yang telah berdiri tegak. Ia langsung mengulumi puting buah dada sepupunya tersebut.

“Ran.., ngmhhnghh.., udah dong.., sshh”, ucap Susan ketika sekilas kesadarannya datang. Namun Randy sudak asyik dengan aktivitas birahinya. Lidahnya mempermainkan puting susu sepupunya dengan penuh perasaan. Mata Susan terpejam dan tangannya membelai kepala Randy, merasakan kenikmatan jilatan-jilatannya.

Randy akhirnya mulai tak sabar, ditariknya turun celana dalam sepupunya tersebut. Susan sudah benat-benar dikuasai nafsu. Ia tidak sadar ketika celana dalamnya terlepas. Randy pun segera memelorotkan celana pendeknya sendiri sampai batang penisnya terlihat tegak. Dikangkangkannya kedua kaki Susan dengan perlahan. Kemualuannya segera ia arahkan ke dalam pangkal paha Susan. “Sleep!”, Setengah detik kemudian kemaluan Randy mulai memasuki liang vagina Susan. Terasa hangat dan empuk. Sesaat Susan seperti tersadar apa yang sedang terjadi, namun kesadarannya langsung hilang ketika Randy mulai menggerakan pinggangnya naik turun.

Napas Randy semakin ngos-ngosan tatkala tubuhnya mulai bergerak menindih tubuh sepupunya yang mulus itu. Buah dada Susan bergoyang-goyang karena gerakan sodokan Randy terhadap tubuhnya. Semuanya seperti tidak dapat dihentikan begitu saja. Kesadaran Susan pun telah musnah berganti kebutuhan untuk dicumbui. Ia akhirnya juga merespon gerakkan yang dilakukan sepupunya tersebut. Kemaluannya berdenyut-denyut ketika penis sepupunya terus bergerak dalam liang kemaluannya. Pinggangnya bergerak berputar-putar dan sambil merintih penuh rasa nikmat.

“Ran.., nghh enghhnak.., enghh terusshhsshh”, rintih Susan dalam kenikmatan.
Desahan Susan membuat nafsu Randy semakin menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang sedang ia setubuhi adalah kakak sepupunya sendiri. Konsentrasi Randy hanyalah pada gerakan tubuhnya yang maju mundur. Batang penisnya seperti dipijit-pijit di dalam lubang kemaluan Susan. Ia semakin mempercepat gerakannya karena terasa sesuatu yang mendesak batang kemaluannya.

“Engghh.., yang.., engghh lebihhss kerassh..sshh”, Susan mendesah merasa saat itu dirinya telah membubung tinggi. Randy semakin mempercepat gerakannya. Bunyi kecepak-kecepuk menjadi semakin berirama. Randy merasa kemaluannya seperti akan meledak. Gerakannya kini telah menjadi hentakan-hentakan. Susan masih terus memeluk erat tubuh sepupunya sambil matanya terus terpejam.
“Esshh.., Ahh.., ahh..ampirr.., ashh”, Susan mendesah-desah. Ia merasa tubuhnya sudah hampir mencapai puncak. Gerakan tubuh keduanya menjadi sangat cepat.

Tiba-tiba Randy menghentakkan badannya dengan keras dan lama ke dalam tubuh sepupunya. Kedua tubuh itu tampak bergetar. Tangan Susan pun memeluk tubuh Randy tak kalah eratnya. Keduanya telah sampai dipuncak kenikmatan.

Adegan kedua sepupu itu tanpa disadari sebenarnya dilihat oleh Tante Mirna dari balik pintu. Tante Mirna benar-benar bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia sebenarnya ingin segera memasuki kamar itu namun ia segera menyadari bahwa hal itu dapat memperburuk keadaan. Beberapa saat kemudian Tante Mirna melihat keduanya tampak tertidur. Kedua ponakannya itu terkulai lemas dalam keadaan telanjang. Dengan perlahan ia memasuki kamar itu dan mendekati ranjang tempat dua ponakannya tertidur lelap. Vilapoker.com



Ia mulai menatap wajah kedua ponakannya dengan rasa galau. Mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga hal ini sampai terjadi ucapnya dalam hati. Dengan perlahan ia mulai menaiki kasur dan mendekatkan badannya pada tubuh Susan. Dipeluknya gadis ponakannya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Melihat tubuh gadisnya yang sintal dengan buah dada yang ranum membuatnya tersadar bahwa Susan memang mungkin sudah saatnya dewasa. Benar-benar kesalahanku, keluhnya.

Randy yang merasa ada orang datang mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan dan tampak tantenya memakai daster biru membelakanginya. Lekuk tubuh tantenya tampak indah dalam keremangan kamar. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih merasakan kenikmatan yang baru saja dilaluinya bersama Susan. Tak terasa beberapa saat kemaluannya menegang kembali.

Kebutuhan yang mulai mendesak itu membuat Randy mulai salah tingkah. Tiba-tiba saja ia ingin menyentuh tubuh tantenya yang berada di hadapannya. Apalagi lekuk tubuh tantenya terlihat sangat indah. Namun ia sangat takut apabila tantenya marah. Maka iapun berpura-pura tidur dan memejamkan mata. Dalam keadaan yang mulai birahi kembali Randy memutar otaknya agar dorongannya tersebut terpuaskan. Maka dengan pura-pura dalam keadaan tidur Randy menggerakan badannya untuk dapat memeluk tubuh tantenya.

Tante Mirna yang merasa tubuh Randy bergerak segara membalikkan badan dan memeluk tubuh Randy. Buah dadanya yang hanya dibalut daster biru terasa menyentuh bagian muka Randy. Tante Mirna pun mulai membelai kepala Randy dengan penuh kelembutan. Diperhatikan ponakan laki-lakinya dari atas kepala dan turun ke bawah. Pasti banyak yang naksir, ucap tante Mirna dalam hati melihat kepolosan wajah ponakannya itu.

Tiba-tiba wajah Tante Mirna memerah. Tak sengaja matanya menyapu penis Randy yang agak menegang. Ia berusaha menenangkan diri bahwa yang dihadapannya adalah keponakannya sendiri. Namun jantungnya semakin berdebar-debar. Apalagi diusia yang telah memasuki usia tiga puluh tahun ini ia belum pernah disentuh laki-laki. Kebutuhan seksualnya selama ini ia alihkan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Sebagai wanita matang, selama ini ia belum pernah melihat tubuh laki-laki dewasa dalam keadaan telanjang. Tubuh Randy pun juga mulai mekar di usia enam belas tahun itu. Tiba-tiba kepala tante Mirna terasa agak berkunang-kunang.

Tanpa sadar tangan Tante Mirna mulai bergerak mendekati batang penis Randy. Dengan perlahan-lahan agar Randy tidak terbangun, Tante Mirna mulai menyentuh batang penis Randy. Terasa hangat dan agak keras. Dibelai-belai batang penis itu dengan penuh kelembutan. Ia membayangkan andai saja batang penis itu mendesak-desak di lubang kemaluannya. Matanya mulai terpejam. Tanpa sadar tangannya yang sebelah meremas buah dadanya sendiri. Terasa ada cairan hangat mengalir di dalam kemaluannya. Mau tidak mau Tante Mirna mengakui bahwa ia mulai terangsang setelah menyentuh batang penis Ponakannya.

Tiba-tiba saja tangan Randy bergerak. Rasa kaget itu membuat Tante Mirna menghentikan sentuhannya. Ia memejamkan mata sambil berbaring dalam keadaan memeluk ponakannya. Harapannya adalah Randy menganggapnya tidur.

Merasakan apa yang baru saja dilakukan tantenya terhadap penisnya, Randy menjadi berani. Dibukanya ritsluiting atas daster tantenya. Tampak di depan matanya buah dada yang lebih besar dari kepunyaan Susan. Tampak pula tonjolan mungil puting Tante Mirna yang berwarna merah kecoklat-coklatan. Randy sudah tidak sabar. Ia langsung mengulum puting susu tantenya yang sudah mulai menegang itu. Buah dada tantenya pun mulai terasa mengeras.

Tante Mirna kebingungan dengan apa yang dilakukan ponakannya itu. Sekilas hampir saja ia beranjak bangun. Seharusnya ia menegur yang dilakukan ponakannya itu. Tapi jangan-jangan ia tahu apa yang tadi kulakukan, pikir Tante Mirna. Ia menjadi takut sendiri kalau hal itu benar-benar terjadi. Pasti bisa memalukan dirinya jika ponakannya melapor pada mamanya.

Akhirnya dengan pasrah, Tante Mirna tetap berpura-pura tidur. Apalagi sentuhan lidah Randy pada putingnya membawa kenikmatan yang luas biasa. Bahkan ia mulai menikmati sepenuhnya ketika kuluman Randy disertai gigitan kecil. Tante Mirna pun mengigit bibir karena cumbuan ponakannya.

“Ssshh..”, tanpa sadar Tante Mirna mendesah penuh kenikmatan saat Randy mengulum puting buah dadanya. Ia pun memegangi kepala ponakannya dengan penuh kelembutan seperti tidak boleh membiarkan aktivitas itu berhenti. Kesadarannya mulai kabur dan seluruh sendi tubuhnya menjadi sangat lemas.

Randy tahu bahwa tantenya berpura-pura tidur. Ia juga tahu kalau tantenya benar-benar menikmati semua yang dia lakukan pada tubuh tantenya itu. Hal ini semakin membangkitkan keberaniannya. Ia segera membuka daster Tante Mirna sambil terus mengulum puting serta meremas-remas tubuh Tante Mirna. Dijilatinya seluruh tubuh tantenya.

“Enghh.., ahhng.., ahh.., nggssh”, Tante Mirna mendesah tanpa mampu menahan apa yang dilakukan ponakannya tersebut. Tubuhnya seperti tidak mau berhenti dijilati. Saat ini dia hanya ingin terus disentuh dengan penuh kemesraan.

Napas Randy mulai ngos-ngosan. Kebutuhannya untuk memuaskan dorongan kebutuhannya membuat ia segera membuka celana dalam Tante Mirna. Pemandangan bulu-bulu halus di sekitar kemaluan tantenya membuat Randy semakin bernafsu. Diarahkan batang penisnya ke dalam selangkangan tante Mirna.

“Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Mirna merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi.

“Aahh.., esshh.., ahh”, Tante Mirna mulai mengerang kenikmatan. Ia pun memegangi pantat Randy untuk membantu gerakan naik turun. Mendengar suara desahan-desahan Susan pun terbangun. Ia sedikit terhenyak melihat tubuh tantenya dalam keadaan telanjang ditindih oleh Randy. Dilihatnya Randy dengan penuh nafsu menyetubuhi Tante Mirna. Susan pun agak bingung bahwa Tantenya itu justru merepon dengan desahan-desahan. Tangan Randy memegangi paha Tante Mirna dan pinggangnya terus bergerak di sela-sela selangkangan tantenya itu. Melihat adegan sepupu serta desahan tantenya dalam ruangan yang remang-remang ini membuat Susan mulai terangsang.

Tanpa sadar Susan mendekati wajah tantenya itu. Diciumnya bibir Tante Mirna. Tante Mirna pun dalam keadaan yang sudah di awang-awang segera merespon ciuman itu dengan lumatan yang penuh birahi. Randy sudah asyik dengan aktivitas maju-mundur untuk meningkatkan kenikmatannya.

“Eng.., ssh.., nikmat.., Ran”, desah Susan sambil disela-sela ciumannya dengan Tante Mirna. Penis Randy terasa semakin tersedot-sedot. Suara kecepak kecepok menjadi semakin keras dan berirama sering dengan gerakan Penis Randy memasuki liang vagina Tante Mirna.

Susan semakin larut dengan permainan tante dan sepupunya itu. Vaginanya pun telah menjadi basah karena terangsang melihat adegan sepupu dan tantenya itu. Kepala Susan kemudian bergerak turun. Bibirnya mengulum puting dan tangannya meremas-remas buah dada tantenya.

“Enghss.., enghh.., terusshhin.., engshh”, Tante Mirna semakin merasa terbang di awang-awang. Gerakan Randy membuat vaginanya terasa sangat nikmat. Jilatan lidah Susan pada putingnya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Nafasnya menjadi semakin tidak teratur. Cumbuan kedua ponakannya memenuhi kebutuhan seksualnya yang sudah tertahan belasan tahun. Tubuhnya pun ikut maju-mundur seiring dengan gerakan Randy. Ia pun semakin mempererat pelukannya pada Randy. Gerakan maju-mundur Randy diimbangi dengan gerakan bergoyang-goyang oleh Tante Mirna. Aktivitas ini membuat ia merasa ada sesuatu yang mendesak. Tante Mirna semakin mempercepat goyangannya. Ia memeluk Randy sangat erat sambil terus mengoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tiba-tiba tubuh Tante Mirna menegang dan vaginanya berdenyut-denyut seperti meledakkan sesuatu. Ia merasa tubuhnya hancur berkeping-keping dalam kenikmatan.

“Ran.., ganti aku aja.., Tante udah lemas tuh”, ucap Susan tanpa malu-malu. Ia segera mengangkangkan kakinya. Nafsunya sudah memuncak dan harus dipenuh. Seluruh bagian tubuhnya seperti menuntut untuk dicumbui.

Randy pun menarik penis dari kemaluan tantenya yang telah terkulai itu. Diarahkannya batang kemaluannya itu ke arah lubang kemaluan Susan yang telah mengangkang itu. “Sleep!”, Penisnya langsung terasa tersedot-sedot. Ditindihnya tubuh sepupunya itu.

Mereka sudah dikuasai oleh birahi yang tak tertahankan. Kebutuhan itu saling memuaskan membuat tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Randy menciumi buah dada Susan sambil pinggang melakukan gerakan naik turun. Susan melingkarkan tangannya pada punggung Randy.

“Enghh terusshh.., Ran.., masukin terus.., enggsshh”, desah Susan sambil matanya masih terus terpejam. Dengan perlahan Randy menarik tubuh Susan agar duduk di atas pinggang Randy. Posisi ini semakin membuat penis Randy lebih bisa masuk lebih dalam lagi. Tangan Randy memegangi pantat sepupunya itu. Susan juga merasa vaginanya terisi lebih penuh oleh batang kemaluan Randy.

Randy semakin merasa penisnya disedot-sedot oleh kemaluan sepupunya. Susan yang berada di atas tubuh Randy mulai menggerakkan bandannya. Keduanya telah larut dalam gerakan berirama. Randy semakin memperdalam gerakannya pada selangkangan sepupunya. Susan pun mencontoh gerakan tantenya dengan menggoyang-goyang pinggangnya.

“Enghh.., terus.., Ran.., Enghh enaahkk”, mata Susan terpejam dan bibirnya mendesah. Randy terus menggerakan pinggangnya semakin cepat. Goyangan Susan pun menjadi samakin cepat pula. Kedua tubuh itu telah menyatu dalam kebutuhan yang tak tertahankan. Vaginanya terasa semakin berdenyut-denyut oleh sodokan-sodokan penis sepupunya itu.

“Lebihh kerashh.., enghh lagi”, Susan merasakan tubuhnya akan meledak. Gerakan keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Tiba-tiba saja tubuh keduanya menegang secara bersamaan tanda mereka mencapai puncak kenimatan bersamaan. Beberapa saat kemudian ketiganya sudah tertidur pulas dalam keadaan telanjang

Peristiwa semalam tampaknya dianggap seperti tidak pernah ada oleh Tante Mirna. Saat makan pagi, tante Mirna tampak berusaha bersikap santai.
“Ran, kamu mau kemana hari ini”, tanya Tante Mirna sambil mengoleskan mentega pada roti tawarnya. Ia sudah mengenakan busana kerja. Blus krem dan rok span abu-abu.
“Mungkin ke toko buku, ada novel Shedney Shieldon yang baru”, ucap Randy sambil berpura-pura membaca koran. Ia masih sungkan dengan Tante Mirna mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia takut kalau sampai Tante Mirna lapor ke mamanya. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Papa, pikirnya.
“Kalau gitu ini buat beli novelnya”, ucap Tante Mirna sambil menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan. Randy pun mendongakan kepalanya sambil terheran-heran. Dilihatnya Tante Mirna mengangguk. Tanda ia harus menerima uang itu.
“Makasih ya, Tante”, ucap Randy sambil menyorongkan badannya memeluk Tante Mirna, Merekapun berangkulan erat.
Tiba-tiba Tante Mirna berbisik”, Yang tadi malem jangan kasih tau siapa-siapa ya, Ran”.
“Iya, Tante”. Kemaluan Randy terasa mengeras.
“Terus kalau Randy takut tidur sendirian, tidur di kamar Tante aja ya”, ucap Tante Mirna dengan nada datar. Ia tidak mau Randy menangkap keinginannya. Namun bagi Randy kata-kata itu seperti undangan yang sangat jelas maksudnya.

Randy pun sedikit melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Tante Mirna tampak agak memerah. Hasrat untuk melakukan aktivitas seperti semalam menggelegak dalam dirinya. Tanpa sadar diciumnya bibir Tante Mirna. Pertama lembut namun kemudian semakin ganas. Kebutuhannya mulai tak tertahankan. Tante Mirna sempat gelagapan dengan apa yang dilakukan oleh Randy. Ia tidak mengira Randy sudah berani terang-terangan. Namun sekian detik kemudian ia mulai membalas ciuman itu. Mereka saling melumat lidah dan menghisap. Ia bahkan membiarkan tangan Randy membuka kancing blusnya. Tangan Randy segera menyisihkan BH dan meremasi buah dadanya. Semakin lama buah dada itu terasa mengeras.

“Sudah, Ran. Tante mau ke kantor”, ucap Tante Mirna sambil berpura-pura tidak mau. Namun tampaknya Randy tidak peduli. Ia mulai menciumi leher tante Mirna dengan lembut. Tangannya yang satu bahkan mulai mengangkat span abu-abu itu hingga celana dalam tante Mirna terlihat. Tangan Randy pun mulai menggerayangi sesuatu yang ada di balik celana dalam itu.

“Ash.., neghh, udah, Ran”, desah Tante Mirna. Ia tidak ingin terlambat. Tender proyek dua M itu bisa hilang, pikir tante Mirna. Namun apa yang dilakukan ponakannya ini benar-benar terasa nikmat. Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya.
“Udah, Ran dari belakang aja”, ucap Tante Mirna sunguh-sungguh. Rani, teman kantornya, pernah mengatakan kalau pria bersetubuh lewat belakang akan cepat ejakulasi. Paling tidak ia masih sempat merasakan persetubuhan dan tidak terlambat ke kantor.


Kesempatan itu tidak disia-siakan Randy. Dipelorotkannya celana pendeknya. Batang penisnya tampak sudah sangat tegang. Perlahan diarahkannya penisnya ke vagina Tante Mirna. “Slepp!”, Penis Randy mulai memasuki lubang kemaluan Tante Mirna. Lututnya seperti hampir copot ketika penis itu masuk ke dalam lubang vagina Tante Mirna. Tante Mirna juga segera merasa lemas. Ia pun segera menahan badannya pada sandaran sofa. Posisinya seperti orang yang akan naik kuda.

“Eenghh.., nikmat, terusshh”, desah Tante Mirna sambil memejamkan mata. Randy memegangi pinggang tantenya dan terus menyodok-nyodokan penisnya ke vagina Tante Mirna. Penisnya terasa seperti dipijat-pijat dan disedot-sedot. Ia kemudian ikut membungkukkan badan agar tangannya dapat meremas buah dada Tante Mirna yang ranum menggantung.

Gerakan mereka makin lama makin cepat. Tante Mirna sudah tertelungkup di sandaran sofa dan Randy menyetubuhinya dari belakangnya. Kenikmatan itu semakin membuat ia lupa urusan kantornya.
“Terusshh, Ran.., enakk”, desah Tante Mirna.

Beberapa saat kemudian Randy mempercepat gerakannya. Ia memeluk erat tubuh Tante Mirna namun pinggangya masih melakukan gerakan maju-mundur. Tiba-tiba tubuhnya mengejang sambil penisnya disorongkan secara mendalam ke lubang kemaluan Tante Mirna. Ia telah sampai di pucak kenikmatan. “Cret.., cret.., cret”, sperma Randy membasahi lubang kemaluan Tante Mirna. Ia kemudian menarik penisnya dan segera menjatuhkan badannya ke sofa.

Tante Mirna segera menaikkan celana dalamnya dan merapikan blus serta rok mininya. Dilihatnya ponakannya memandang dengan mesra. Tampaknya kecanggungan diantara mereka sudah luntur dan berganti hubungan dua lawan jenis yang saling membutuhkan. Tante Mirna pun mau tidak mau mulai mengakui bahwa ia tidak lagi melihat Randy sebagai ponakannya namun tak lain sebagai pria yang mampu memberikan kepuasan seksualnya.

“Udah, ya Tante ke kantor dulu”, ucap Tante Mirna sambil mendekati Randy. Mereka berciuman dengan mesra seperti seorang kekasih. Setelah melihat jam di dinding, Tante Mirna segera beranjak ke garasi. Ia sudah terlambat sepuluh menit. Tak lama kemudian deru suara mobil pun berbunyi dan semakin lama semakin menghilang. Randy pun segera memakai celananya dan tertidur di sofa. Vilapoker.com



Ngentot Primadona Kampus Anak Kuliahan

Pertama kali mengenal Marsya pada saat aku sedang bermain Basket di salah satu lapangan di Bandung Barat. Waktu itu aku ingin sekali berkenalan dengannya tetapi aku sedikit malu-malu, soalnya cewek yang satu ini benar-benar cantik dan lain dengan yang aku liat dari biasanya. Marsya seorang cewek Indonesia, kulit putih, tinggi 172cm dan ukuran dada 38A bisa dibilang besar toketnya untuk ukuran remaja yang baru berumur 19 tahun.




Aku akhirnya berkenalan dengan Marsya walau aku malu-malu setengah mati, takut ditolak eh gak tahunya aku berhasil berkenalan dengannya!
“Hai… boleh kenalan ga cewek”, sapaku dengan sedikit percaya diri.
“Siapa yaahhh?”, jawab Marsya.
“Saya Hendrik? Boleh kenalan ga, kamu siapa?”
“Boleh kok emank siapa yang ngelarang… Aku Marsya.”
“Kuliah dimana?? Tanyaku sedikit basa-basi.”
“Ada deh”, Katanya sedikit manja.

Akhirnya kami ngobrol panjang lebar dan aku sedikit berani menanyakan nomor teleponnya.
Malamnya aku mencoba menelepon Marsya dan pada saat itu Marsya mengangkat teleponku.
“Halo ini Marsya ya”, sapaku.
“Iya..ni sapa ya”, Marsya menjawab.
“Ini aku Hendrik yang tadi siang berkenalan dengan kamu Mar”, kataku.
“Oh… iya?? ada apa Hen?”
“Engga aku cuma pingin ngobrol aja Mar… Ganggu ga?”
“Engga ganggu kok Hen… biasa aja sama Marsya yah.”
Aku mulai membuka topik pembicaraan meskipun sedikit canggung dan tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan. Lalu aku mulai memberanikan diri dengan menanyakan tentang kehidupan dia.
“Marsya udah punya pacar?”, tanyaku.
“Belum Hen… dulu Marsya punya pacar tapi sekarang udah putus”, jawabnya.
“Lho putus gara-gara apa sya?”
“udah bosen aja”, jawab Marsya polos.
“Marsya besok aku pingin ketemuan sama kamu bisa ga?”, pintaku.
“Boleh kok Hen… mau ketemuan dimana?”
“Di BSM aja Mar mau??”, tanyaku.
“Boleh jam 3 sore yah pas Marsya pulang Kuliah”, jawabnya.
“Ok… selamat malam Mar”, jawabku sebelum menutup pembicaraan. Vilapoker.com



Besoknya jam 3 sesuai kesepakatan kami bertemu di BSM, Marsya berdandan sexy sekali pada saat itu dengan baju yang teramat sangat menggoda… Ingin sekali aku menyetubuhinya tetapi aku masih perjaka… tidak tahu caranya bagaimana ML.
Kami ngobrol panjang lebar sampai jam 6 sore sambil makan-makan… Tak terasa pada saat mau mengantarkan Marsya pulang hujan turun deras sehingga aku menetap di mobilku.
Aku bertanya pada Marsya,
“Mau es krim ga say?”, aku memanggil dia dengan sapaan “say”, eh ternyata dia juga balik meresponsku dengan perkataan
“mau donk say”. Cuaca saat itu mendukung sekali… cuaca hujan gerimis dan pada saat itu kami berdua di mobil.
Aku membelokkan mobilku ke parkiran mobil.Marsya bertanya,
“Ngapain kita ke parkiran say?”
“Gak apa-apa kok say… aku cape aja”, aku mulai memandangi buah dada Marsya yang pada saat itu menggoda sekali… ingin sekali aku menjilati puting susunya itu…
Marsya melihatku dan ia berkata
“Ikhhh.. Hendrik nakal liat-lihat perabotan Marsya… bayar tauuuu!? Masa liat gratis, ga bayar”, ucapnya manja.

Aku hanya bisa tertawa dan dalam hatiku aku ingin sekali mengecup bibirnya… aku mulai memberanikan diri untuk mencium mulutnya walaupun Marsya menolak tapi aku terus memaksa dan pada akhirnya dia tidak bisa mencegah aku untuk menciummnya. Aku melumat bibirnya dengan sangat lembut dan tak disangka Marsya membalas ciumanku dengan ganasnya.
Marsya bertanya kepadaku,
“Hendrik udah pernah ML belum?”
“Belum”, jawabku.
“Marsya juga masih perawan Hen… Marsya ga tau bagaimana caranya ML.”

Serasa sudah mendapatkan lampu hijau dari Marsya, aku mulai memberanikan diri tuk membuka pakaiannya. Marsya malah memberikan posisi tuk memudahkan aku membuka pakaiannya. Aku membuka branya yang warna hitam itu… WOW dada Marsya yang berukuran 38A langsung aku kulum dan Marsya berteriak kecil,
“Aaachh… geli Hen! Jangan cuma satu doank donk say… sebelahnya juga donk say”, aku mulai menjilati puting susu bagian sebelahnya.
Marsya yang merasa bergairah mulai membuka pakaian dan celanaku. Aku pun juga membuka celananya dan kami berdua pun dalam keadaan telanjang bulat di dalam mobil. Pada saat itu di tempat parkir sedang mendukung tidak ada satu orang pun yang melihat kami.
“Kulum kontolku donk say”, pintaku.
“Marsya ga pernah ngelakuin ini satu kali pun Hen”, jawabnya.
“Aku juga blm pernah melakukannya Say… jadi kita sama kan”, kataku.
“Iya saya coba deh”, jawabnya.
Marsya mulai mengemut kontolku dan dia merasa enjoy mengemut kontolku yang berukuran 19cm. Aku juga mengelus bibir vaginanya dengan tanganku. Dia mengerang, “emh..ehm..ehm..”, tanda dia mulai bereaksi pada sentuhan tanganku…
Aku yang tidak tahan dengan vaginanya. Aku mulai membaringkannya dan langsung menjilati memeknya.
“Ouchh… nikmat bangat say,terusssss….achh..achh “, Marsya mendesah dan aku terus menjilati klitorisnya dan pada akhirnya dia mendesah tidak karuan.
“Aahhhh… achhhhhh Hen akuuu keluarrrr…achhh?!”, keluarlah cairan putih dengan baunya yang khas.

Marsya tak mau kalah. Dia ingin mengulum kontolku. Kami melakukan gaya 69 di jok mobil belakang. Marsya mengemut kontolku dengan ganasnya. Dikocok-kocok dan diemut dengan ganas. Maklum baru pertama kali kami melakukannya. Lalu aku yang sudah tidak tahan… aku mulai menyuruhnya merebahkan diri dan mengangkat pahanya sehingga tampaklah memeknya yang merah dan menggoda itu.
“Aku masukin ya say?”, tanyaku.
“Iya say tapi pelan-pelan yah… Marsya masih perawan.”
Aku mulai memasukan kontolku ke liang vaginanya pelan-pelan. Sulit sekali memasukan kontolku ke memek anak kuliahan ini saking rapatnya. Marsya berteriak,
“Ahhh… sakiiittt Hen!”.
Aku yang tidak peduli karena sudah terlanjur nafsu memulai melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan-pelan. Marsya yang membalasnya dengan menjambak rambutku. Aku terus melakukan genjotan terhadap memeknya yang sangat nikmat itu…
“Ahhhh… sakittt Hen”, aku mulai mempercepatkan gerakan maju-mundur.
Marsya berteriak, “Ahhhhhhhh”, aku mengeluarkan kontolku dari memeknya dan langsung keluarlah darah segar membanjiri jok mobil belakangku.
“Saay lanjut ga? Nih… aku belum apa-apa tau”, tanyaku…
“Iya say lanjut aja… Marsya siap kok”, jawab Marsya.
Lampu hijau nih… aku mulai memasukkan kontolku ke memek Marsya lagi… Marsya sangat menikmati tusukan kontolku ke liang vaginanya.
“Say…Gin..ya kee…luarrr”, dan pada saat itu cairan putih itu keluar. Ternyata dia orgasme. Cairan putih itu membanjiri kontolku yang nikmat dijepit oleh dinding dinding memek Marsya. Kontolku masih berada di dalam memek Marsya.
“Kamu belum keluar Say?”, tanya Marsya.
“Belum Say”, jawabku.
Aku meneruskan tusukan ke memek Marsya dan Marsya terus mengerang… suara teriakannya membuat aku tambah bernafsu.
“Aachh… achhh….achhhhh.achhhhhh..He…nnn… km heee..batt sayyy…”, dan tiba-tiba Marsya mengeluarkan lagi cairan putih. Dia orgasme untuk yang kedua kalinya.
“Kamu belum keluar-keluar juga Say. Cepat keluarin donk Say, udah malam”, pintanya.
“Ok say”, jawabku.




Aku mulai mempercepat gerakanku. Menggenjot memek Marsya dengan sangat cepat.
“Acchh… achhh… achhhh… achhh”, Marsya mendesah menikmati setiap tusukan kontolku yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Aku yang hampir orgasme semakin mempercepat gerakan kontolku keluar masuk memek Marsya.
“Sayyy… aku mau keluar nihhhhh”, ucapku.
“Keluarin di luar ya say jangan didalem”, pinta Marsya.
Aku akhirnya orgasme dan mengeluarkan spermaku ke dada Marsya yang lumayan besar itu.
“Ccroott… crootttt…”, aku menumpahkan ke dadanya dan sebagian ke mukanya.
“Thanks ya Say… kejadian ini ga bakalan aku lupain”, kata Marsya.
“Sama-sama say… aku juga ga akan melupakan kejadian ini.”

Akhirnya kami selesai ML dan kami memakai pakaian kami kembali. Dan saatnya mengantarkan Marsya pulang kami sempat berciuman dalam mobil pada saat aku mengantar dia sampai depan rumahnya. Aku dan Marsya tidak akan melupakan kejadian dimana aku melepas keperjakaanku dan dia memberikan keperawanannya. Kami tidak berhenti sampai disitu saja. Kami melakukannya lagi di rumahnya pada saat rumahnya sepi. Setidaknya aku dan Marsya setiap akhir weekend diisi dengan ML.

Meskipun aku tidak ada hubungan apapun dengan Marsya dan sekarang aku sudah menetap di Ciparay, aku sudah mendapatkan beberapa pelajaran dari cewek cewek yang ada disini tapi hanya Marsya yang telah memberikan pelajaran yang sangat berarti padaku. Selamat tinggal Bandung, Thank you Marsya. Tamat Vilapoker.com


Aksiku Ngintip Tetangga Berbuah Kenikmatan

Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?” pikirku mulai tak sabaran.
Kulihat Mas Arif dan Mbak Ayu berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Ayu tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Ayu.



Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Ayu, menyuruh Mbak Ayu memegang penis Mas Arif. Mbak Ayu kelihatannya menurut dan memasukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Ayu menolak.

“Yaaa….. itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke” desahku dalam hati kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Ayu. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya ngentot tampaknya akan terpenuhi.

Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Ayu pun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Ayu hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali. Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.
“Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati melihat penis Mas Arif.
Mas Arif pun langsung menghimpit Mbak Ayu, tampaknya Mas Arif akan mempenetrasi Mbak Ayu. Kulihat Mbak Ayu memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Ayu yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam memek Mbak Ayu, Mas Arif langsung memeluk Mbak Ayu sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.
Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Ayu.

“Waaah…..ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.
Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan “tumpang sari” pada Mbak Ayu. Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Ayu tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku menangkap kekecewaan di muka Mbak Ayu, meski Mbak Ayu berusaha tersenyum setelah “permainan” itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.

Peristiwa “observasi awal” hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Ayu dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Ayu! Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Ayu. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.

Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
“Hai Bud, apa kabar ?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.
“Baik“ jawabku sambil tersenyum.
“Silahkan duduk”
Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,
“Ton, aku butuh bantuanmu”
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”
“Aku butuh pekerjaan”
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?”
“Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain”
“Hm memangnya untuk siapa ?”
“Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya”
“Aneh…tapi jika itu maumu, ya tidak apa-apa”
“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali”
“Oke, baik kalau gitu”
“Tapi…nanti jadwal wawancaranya aku yang tentuin”
“Terserah kamu”


Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.
Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang. Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Ayu itu.
Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.

“Mas…….saya ingin bicara sebentar” kataku mulai membuka percakapan.
Mas Arif pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa Bud ?”
“Begini…….saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.
Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu
“Hmmm….saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!”
“Ya Mas” kataku dengan senyuman.
Dalam hatiku, aku berpikir “Habislah sudah kesempatanku !”
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu
“Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja” Mas Arif tiba-tiba permisi.
“Eee….nggak..nggak kok Mas, saya sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.
“Gangguin tidur kamu nggak ?”
“Ndak…ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
“Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ?” Mas Arif bertanya.
“Ooo…itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok”
“Syaratnya gimana ?”
“Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi”
“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja” Mas Arif sepertinya keberatan.
“Enggak….nggak… koq, perusahaannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meyakinkan Mas Arif.
“Hmmm…baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?”
“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja” kataku menyarankan.
Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.

Hari ini selasa sesuai prediksiku Mas Arif pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.
“Wa’alaikumussalam” terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.
Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Ayu tampak cantik sekali.
“Bagaimana Mas, tadi ?” tanyaku
“Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara”
“Alhamdulillah, tak do’ain supaya berhasil”
“Terima kasih”
Setelah berbasa basi cukup lama, akupun permisi.
“Eehh…nanti dulu, kamu kan belum minum” Mas Arif berusaha mencegahku.
“Ayo Ayu buatkan air minumnya dong” perintah Mas Arif menyuruh istrinya, Mbak Ayu.
Aku menolak dengan halus,
“Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, aku masih ada urusan”
“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya”
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Ayu tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke kamarku, riang karena sebentar lagi “adikku” akan bersarang dan menemukan pasangannya.

Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Ayu sendirian di kamarnya. Rencana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.
Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku memberi salam.
Lama baru terdengar jawaban,
“Wa’alaikumussalam” jawaban Mbak Ayu dari dalam kamar itu.
Pintunya pun terbuka, kulihat Mbak Ayu melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,
“Ada apa ya ?” tanyanya.
“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
“Oh, baiklah” kata Mbak Ayu sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.
“Eee…tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Arif” kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Ayu mempersilahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.

Di dalam kamar, aku menghidupkan komputer dan mengoperasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.
“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Mbak Ayu yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
“Film apa sih ?” tanya Mbak Ayu kepadaku.
“Pokoknya bagus” jawabku sambil kemudian memberikan petunjuk bagi Mbak Ayu, bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.
Mbak Ayu hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian “intinya”.
Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Ayu.
Setelah di kamarku. melalui ventilasi kulihat Mbak Ayu menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Ayu masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Ayu menyukainya. Vilapoker.com



Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Ayu pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
“Hhh…..hhhh….oohhh…..oohhh”suara Mbak Ayu mendesah–desah , tampaknya merasakan kenikmatan.
Aku kaget,
“Wah….hebat dia masturbasi” kataku dalam hati.
Ingin aku masuk ke kamar Mbak Ayu, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.

Film di komputer itu terus berjalan hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Ayu kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Ayu ternyata masih meneruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
“Akkkhhhhhhh………” Mbak Ayu terpekik pelan menandai orgasmenya.
Sesaat setelah orgasme Mbak Ayu yang kelima akupun ejakulasi.
“Oooorghhhh………” suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.
Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Ayu nantinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.
Kemudian Mbak Ayu sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.

Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkembangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau Mbak Ayu ngomong macam macam soal Vcd itu, bisa berabe aku. Tetapi lama kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku mengintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah. Begitu aku mulai mengintip, aku kaget karena kulihat Mbak Ayu dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif, mereka bersetubuh, Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Ayu kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Ayu seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
“Ah…Mas Arif nggak pandai merangsang sih”, pikirku.

Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, membuat Mbak Ayu tidak bisa lagi mencapai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Ayu akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesempatanku.

Pagi itu setelah aku mandi aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Ayu yang sedang sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,
“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.
“Wa’alaikumussalam” suara lembut Mbak Ayu menyahut dari dalam kamar.
Mbak Ayu pun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.

“Oh ya, saya lupa memberitahukan cara menghidupkan Vcd kemarin” kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba raut muka Mbak Ayu menjadi sangat serius,
“Kamu kurang ajar ya, masa’ ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak” kata Mbak Ayu sedikit keras.
Aku kaget “ternyata ia marah”, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,
“Oh ma’af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma’af kalau tertukar, yah saya ambil saja lagi”
Mbak Ayu masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
Mbak Ayu kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
“Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?!”
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,
“Alaa….Mbak jangan munafiklah, toh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”
“Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak” bentak Mbak Ayu.
“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan” kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.
Mbak Ayu terkejut,
“Kamu…..”
Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,
“Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Ayu, saya jamin Mbak Ayu bisa orgasme bila main dengan saya”
“Kurang ajar ! Keluar kamu !”
“Eeee….tidak segampang itu, ayolah Mbak Ayu jangan marah, pi-kirkan dulu, saya satu-satunya kesempatan, bila Mbak Ayu tidak memakai saya, seumur-umur Mbak Ayu nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai menghasutnya.
Mbak Ayu terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi…
“Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !”
Aku gemetar, tapi tetap berusaha,
“Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !” kataku sedikit tegas.

Lama kulihat Mbak Ayu terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…“Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak !” kataku sambil beranjak pergi.
Tetapi kulihat Mbak Ayu hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Ayu, kulihat ia menangis.

“Mbak….jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku. Lalu pelan-pelan kupegang pundak Mbak Ayu dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Mbak Ayu hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.

Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah “lubang” birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.

“Akhhh…..akhhh…….ahhhhhh” desahan Mbak Ayu mengiringi setiap tusukan jemariku.
Aku ingin membuatnya terangsang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana panjang dan kolornya sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Ayu dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Ayu yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya. Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,
“Elmm…..mmmm…….emmmm” dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali, “Akhh….ooohhhh……aaahhhhh” suara Mbak Ayu mendesah kuat tanda terangsang.
Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Mbak Ayu dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.


Perlahan kubimbing Mbak Ayu mencapai puncaknya, hingga akhirnya…“Aaaaaaakkkhhhhhh……” pekikan pelan Mbak Ayu mengiringi orgasmenya. Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Mbak Ayu yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme. Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Ayu mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat.
“Ahhh….ahhhh….yaah…..yaahh” suara Mbak Ayu mulai meracau.
Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Ayu, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Ayu, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Ayu yang indah membukit.

Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Ayu bergantian, sementara desahan Mbak Ayu terdengar halus di telingaku, “Akhh….teruuss…..teruuusss” Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Mbak Ayu, dan vagina itu semakin becek,
“Crrtt…..crrtt……slrrpp”

Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Ayu yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Ayu sedikit kaget,
“Ohhh….oomlmmm…elmmmm” Mbak Ayu tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.
Aku memang berusaha membimbing Mbak Ayu agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa memasukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.

Sambil mencium dan merangsang pepek Mbak Ayu, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melemparkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
Lama akhirnya Mbak Ayu mencapai orgasmenya yang kedua kali,
“Ooorrggghhhhh….”
Mbak Ayu mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.
“Aaaaaahhhhh…” suara Mbak Ayu terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.

Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Ayu dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan menjadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
“Sllrrttt…cccrrttt….ccrrplpp” suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
“Akhhh….yaaahh…terus…” suara desahan Mbak Ayu keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya kusandarkan di pundakku, pinggul Mbak Ayu sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku berulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Ayu yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhh……..hhhh”
Suara desahanku dan Mbak Ayu terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.
Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Ayu, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Mbak Ayu, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang bersenggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.

Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama “Oooohhhhhhh…..” lenguhan panjang Mbak Ayu menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi. Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Ayu dan Mbak Ayu juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.
Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Ayu ternyata menangis !
“Kenapa Mbak Ayu ? saya menyakiti Mbak ya ?!” tanyaku lembut penuh sesal.
Masih terisak, Mbak Ayu menjawab,
“Ah…..nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia”
Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Mbak Ayu. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali. Sambil meremas kedua payu-daranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Ayu ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhhChhhh”
hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.
Aku ingin melakukannya bersama dengan Mbak Ayu. Untuk itu aku memeluk Mbak Ayu, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Ayu kembali terangsang, bahkan terlalu cepat.
Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Ayu,
“Tahan……tahan………Mbak, kita lakukan bersama-sama ya”
“Ohhh…ohhh….ohhhh…..aku sudah tak tahan lagi” desah Mbak Ayu, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
“Pelan…..pelan saja Mbak, kita lakukan serentak” kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.
Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.
“Akhhh….ooohhh….ohhh” suara Mbak Ayu mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan penisku.
“Lepaskan…..lepaskan……Mbak, sekarang !” suaraku mengiringi desahan Mbak Ayu, Mbak Ayu menuruti “saranku”, diapun akhirnya melepaskan orgasmenya,
“Aaaakkhhhhh…………”
“Ooorggghhhhh………” suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi orgasme Mbak Ayu. Erat kupeluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.

Setelah “permainan” itu, dalam keadaan bugil aku tiduran terlentang di samping Mbak Ayu yang juga telanjang. Mbak Ayu memelukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,
“Terima kasih Bud”
Mbak Ayu kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan menyesal melakukan ini dengan Mbak Ayu, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain dengan diriku, ini berarti aku menyengsarakan Mbak Ayu.

Sambil merenung, aku kecup rambut hitam sebahunya itu dan kubelai serta kuusap pelan.
Siang itu aku tidur nyenyak, bagiku pengalaman barusan sangat berkesan. Sejujurnya aku ingin melakukannya lagi, tapi aku takut menyusahkan Mbak Ayu nantinya karena membuat dia tergantung padaku dan ternyata aku mulai mencintainya.

sekian kisah pengalamanku ngintip tetanggaku yang ml dan kurang puas dengan permainan suaminya sendiri. Vilapoker.com


Cerita ML di ajak Ngentot Dokter Yani

Terserah anda percaya atau tidak, tetapi kisah ini benar-benar nyata terjadi. Waktu itu kalau tidak salah sekitar akhir tahun 2008 yang lalu, saat aku diharuskan melakukan medical check up di sebuah klinik kesehatan di Malang, guna memenuhi persyaratan agar diterima bekerja di sebuah perusahaan dan kebetulan aku juga diajak teman aku untuk mengikuti program asuransi jiwa karena dia adalah agen dari salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia.



Sebenarnya aku malas melakukan medical check up ini. Pasti lagi-lagi cuma cek darah, air seni dan kotoran saja. Kemudian diperiksa oleh Dokter memakai stetoskop untuk menyakinkan bahwa aku terkena penyakit atau tidak. Itu saja menurut aku, tidak ada yang lain. Dokter yang akan memeriksa aku paling-paling juga Dokter cowok, mana sudah tua lagi.

Dengan menarik nafas kesal, aku memandangi sekeliling. Tahu-tahu mata aku tertumbuk pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam klinik tersebut. Amboi, cantik juga dia. Aku taksir usianya sekitar 35 tahun. Tetapi alamak, tubuhnya seperti cewek baru dua puluh tahunan. Payudaranya yang membusung cukup besar itu tampak semakin menonjol di balik kaos oblong ketat yang ia kenakan. Kencang dan padat. Gumpalan pantatnya di balik celana jeans-nya yang juga ketat, teramat membangkitkan selera. Batinku, coba Dokternya dia ya. Tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya. Akan tetapi karena rasa bosan yang sudah menjadi-jadi, aku tidak memperhatikan wanita itu lagi. Aku kembali tenggelam dalam lamunan yang tak tentu arahnya.

“Mas, silakan masuk. Itu Dokternya sudah datang.” Petugas di loket pendaftaran membuyarkan lamunan aku. Saat itu aku sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu 15 menit. Dengan malas-malasan aku bangkit dari bangku dan berjalan masuk ke ruang periksa Dokter.

“Selamat malam”, suara lembut menyapa saat aku membuka pintu ruang periksa dan masuk ke dalam. Aku menoleh ke arah suara yang amat menyejukkan hati itu. Aku terpana, ternyata Dokter yang akan memeriksa aku adalah wanita cantik yang tadi sempat aku perhatikan sejenak. Seketika itu juga aku menjadi bersemangat kembali.
“Selamat malam, Dok”, sahut aku. Ia tersenyum. Aah, luluhlah hati aku karena senyumannya ini yang semakin membuatnya cantik.
“Oke, sekarang coba kamu buka kaos kamu dan berbaring di sana”, kata sang Dokter Yaniambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ada di sudut ruang periksa tersebut.

Aku pun menurut. Setelah menanggalkan kaos oblong, aku membaringkan diri di tempat tidur. Dokter yang ternyata bernama Dokter Yani itu menghampiri aku dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.
“Kamu pernah menderita penyakit berat? Tipus? Lever atau yang lainnya?” Tanyanya. Aku menggeleng.

“Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya.” Dengan stetoskopnya, Dokter Yani memeriksa tubuh aku. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada aku, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh aku. Tanpa aku sadari, aku rasakan, batang kemaluan aku mulai menegang. Aku menjadi gugup, takut kalau Dokter Yani tahu. Tapi untuk ia tidak memperhatikan gerakan di balik celana aku. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati aku untuk memeriksa apakah bagian tersebut terasa sakit atau tidak, semakin membuat batang kemaluan aku bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik celana panjang aku. Vilapoker.com




Wah, kenapa kamu ini? Kok itu kamu berdiri? Terangsang aku ya?” Mati deh! Ternyata Dokter Yani mengetahui apa yang terjadi di selangkangan aku. Aduh! Muka ini rasanya mau ditaruh di mana. Malu sekali!
“Nah, coba kamu lepas celana panjang dan celana dalam kamu. Aku mau periksa kamu menderita hernia atau tidak.” Nah lho! Kok jadi begini?! Tapi aku menurut saja. Aku tanggalkan seluruh celana aku, sehingga aku telanjang bulat di depan Dokter Yani yang bak bidadari itu.
Gila! Dokter Yani tertawa melihat batang kemaluan aku yang mengeras itu. Batang kemaluan aku itu memang tidak terlalu panjang dan besar, malah termasuk berukuran kecil. Tetapi jika sudah menegang seperti saat itu, menjadi cukup menonjol.

“Uh, burung kamu biar kecil tapi bisa tegang juga”, kata Dokter Yani serasa mengelus batang kemaluan aku dengan tangannya yang halus. Wajah aku menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, batang kemaluan aku semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Yani. Dokter Yani masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kemaluan aku itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas buah zakar aku.
“Mmm.. Kamu pernah bermain?” Aku menggeleng. Jangankan pernah bermain. Baru kali ini aku telanjang di depan seorang wanita! Mana cantik dan molek lagi!

“Aahh..” Aku mendesah ketika mulut Dokter Yani mulai mengulum batang kemaluan aku. Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir digelitiknya ujung kemaluan aku itu, membuat aku menggerinjal-gerinjal. Seluruh batang kemaluan aku sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Yani yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluan aku. Terasa geli dan nikmat sekali. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tak tertandingi seperti ini.

Dokter Yani segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluan aku dari dalam mulutnya berulang-ulang. Gesekan-gesekan antara batang kemaluan aku dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi aku.
“Auuh.. Aaahh..” Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kemaluan aku menyemprotkan cairan kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter Yani. Bagai kehausan, Dokter Yani meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
“Duh, masa baru begitu saja kamu udah keluar.” Dokter Yani meledek aku yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

“Dok.. Aku.. baru pertama kali.. melakukan ini..” jawab aku terengah-engah.
Dokter Yani tidak menjawab. Ia melepas jas Dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata aku melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin mencelat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata aku serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter Yani mencopot BH-nya dan melepaskan celana dalamnya. Astaga! Baru sekarang aku pernah melihat payudara sebesar ini. Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah aku lihat selama hidup aku. Aku rasakan batang kemaluan aku mulai bangkit kembali menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.

Dokter Yani kembali menghampiri aku. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah aku. Tanpa mau membuang waktu, aku langsung menerima pemberiannya. Mulut saja langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan aku waktu aku menyusu pada ibu aku selagi kecil. Dokter Yani adalah wanita yang kedua yang pernah aku isap-isap payudaranya, tentu saja setelah ibu aku saat aku masih kecil.
“Uuuhh.. Aaah..” Dokter Yani mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang. Aku permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali aku gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter Yani menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tak lama kemudian, batang kemaluan aku sudah siap tempur kembali. Aku menarik tangan Dokter Yani agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter Yani memahami apa maksud aku. Ia langsung naik ke atas tubuh aku yang masih berbaring tertelentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk ia mengarahkan batang kemaluan aku ke liang kewanitaannya yang sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kemaluan aku masuk satu sentimeter ke dalam liang kewanitaannya, ia menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluan aku hampir tertelan seluruhnya di dalam liang senggamanya. Aku melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung batang kemaluan aku menyentuh pangkal liang kewanitaan Dokter Yani. Menyadari bahwa aku mulai terangsang, Dokter Yani menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh aku menjadi meregang merasakan nikmat yang tiada tara.

Aku merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluan aku sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun aku mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Yani yang liar itu. Akhirnya.., “Aaahh.. Ouuhh..” Aku dan Dokter Yani sama-sama menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Aku menyemprotkan air mani aku di dalam liang kewanitaan Dokter Yani yang masih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluan aku.

Demikianlah peristiwa yang terjadi siang itu. Dan mau tahu apa hasil medical check up yang istimewa tersebut? Aku dinyatakan sehat secara fisik dan tentu saja secara mental. Apalagi secara birahi. Tentu para pembaca semua tahu maksud aku ini. Dan akhirnya aku berhasil diterima di perusahaan besar itu yang merupakan impian aku sejak lama dan aku berhasil mendapatkan asuransi policy sekalian membantu teman aku mendapatkan komisinya. permainan aku yang menggebu-gebu tersebut dengan Dokter Yani merupakan pengalaman aku yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia sepertinya menghindar apabila aku sengaja datang ke tempat praktek Dokternya. Dengan alasan sibuk atau sejuta alasan lainnya, Dokter Yani selalu menolak menemui aku. Aku tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Ah, biar saja! yang penting aku sudah merasakan nikmatnya bercinta dengan dokter cantik itu. Vilapoker.com


Pemerkosaan Erika Anak Majikan

Erika berangkat dulu ma.., pa..” Erika pamit kepada kedua orang tuanya.
“Ya…” Ayah Erika menjawab singkat.
“He-eh..” Ibu Erika menjawab tak kalah singkat.

Mereka kembali sibuk dengan urusan masing – masing, kadang-kadang Erika merasa hidup sendiri di rumah mewah yang semakin terasa sepi semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu. Hari itu Erika tampak risih menatap mata Mang Dodi yang mesum sumringah. Wajah Erika yang cantik merah padam mengingat apa yang telah dilakukan oleh Mang Dodi, sopir kepercayaan-nya.



“Non kenapa koq diem aja sih?” Mang Dodi memecah keheningan.
“Emm .. ngak apa-apa mang…”

Wajah Erika merona saat mang Dodi menyapa. Erika melihat ke jendela, sepertinya ini bukan jalan menuju sekolah, entah kemana mang Dodi akan membawanya. Erika tidak peduli karena sebenarnya Erika memang sedang tidak mood untuk masuk sekolah hari ini. Hilangnya perawan membuat ia tersiksa dalam rasa gelisah yang tak berkesudahan.

“Kemarin enak banget ya non…” Mang Dodi terkekeh mesum.

“Kita mau kemana mang ??” Erika berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Mang Dodi punya kejutan buat Non Erika” jawab Mang Dodi


“Kejutan?” Erika heran

“Iya Non suka ngentot kan? Kemaren Non menikmati kan?” tanya Mang Dodi tanpa malu-malu lagi.

“Eeemmm….jangan nanya gitu ah Pak!” wajah Erika memerah dan tidak tahu harus menjawab apa, memang tak bisa disangkal kalau dirinya menikmati persetubuhan itu.

“Hehehe…malu-malu ah si Non, Mamang yakin Non Erika pasti suka kejutan ini….tubuh Non bakal menggeliat, menggeliat dan terus menggeliat he he he”

Mang Dodi senyum sambil menancap gas. Mobil melaju kencang menuju Gunung Tangkuban Perahu. Hari Senin tidak terlalu banyak orang, hanya ada beberapa mobil yang parkir dan dua buah bus pariwisata.

“Ayo non , udah sampe, yuk turun…ikutin mamang ya.. agak jauh supaya nggak pada curiga”

Mang Dodi membukakan pintu seperti biasa. Dengan hati ragu Erika turun dari dalam mobil. Entah mengapa ia menurut saja mengikuti mang Dodi yang terus naik ke atas. Semakin ke atas semakin sepi, hanya satu atau dua orang saja yang kadang berpapasan dengan Mang Dodi dan Erika. Menyusuri jalan berbatu menuju sebuah gubuk yang tampak ramai dengan beberapa laki-laki bertubuh kekar namun berpakaian kumal dan dekil.

“Mang Dodi?? Mereka siapa?”

Erika bersembunyi di balik punggung sopirnya, sorot-sorot mata laki-laki bertubuh kekar itu tampak ganas dan liar seperti hendak menelanjangi tubuh Erika. Wajah-wajah sangar dan beringas tersenyum mesum pada Erika. Semuanya berjumlah lima orang.

“Ini temen-temen Mamang Non, Non kan katanya pengen kejutan ya, makannya Mamang ajak ke sini” kata Mang Dodi enteng.

“Ahhhhhhhh…!! Tapi Mang…kok gini….aaahhh!!”

Tiba-tiba seorang dari mereka yang bertubuh gempal menarik lengan Erika. Bibir Si gempal yang tebal segera menyumpal bibir mungil Erika. Keahlian si gempal dalam mencumbu membuat Erika merinding panas dingin dan pemberontakannya mengendur. Keempat temannya tidak tinggal diam, mereka mengerubuti Erika seperti semut mengerubuti sebongkah gula-gula. Mereka mempreteli satu persatu pakaian seragam Erika, beberapa kancing seragamnya putus karena agak kasar, sehingga dalam waktu singkat Erika telah telanjang di pelukan si pria gempal diiringi decak kagum orang-orang yang sama sekali tidak dikenal oleh gadis itu. Lima pasang tangan kasar itu segera menjelajahi kehalusan dan kemulusan tubuh Erika. Meremas buah pantat, mencolek belahan bibir vagina dan mengelusi permukaan paha Erika yang halus. Mata Erika terbelak melihat batang-batang besar berurat mengacung perkasa. Erika merasa panas oleh gairah yang membakar darah mudanya.

“Auhhhh…..” Erika menjerit kecil

Si gempal melemparkan tubuh Erika ke atas sebuah kain selimut belel yang dibentangkan di depan sebuah rumah gubuk tua. Serempak lima orang laki-laki berwajah beringas menerkam tubuh Erika yang terpekik. Tubuh telanjang Erika terlentang pasrah, lima pasang tangan kembali menjelajah menggerayangi sekujur tubuh Erika yang putih mulus. Kelima Orang Laki-laki dengan wajah sangar terkekeh saat saling berbincang mesum. Dari situ Erika mengetahui nama-nama mereka, yang bertubuh gempal bernama Bang Somad, yang berkumis bernama Bang Malik, yang berwajah codet bernama Bang Toto, yang brewokan bernama Kardi, yang bibirnya paling tebal bernama Jarot. Kesemuanya adalah penduduk setempat, ada yang menjadi penjaga keamanan, penjual mainan, dan petugas kebersihan. Vilapoker.com



“Minggir. Gua mau nyicip memeknya…” Bang Somad mengejar vagina Erika.
“Siap banggg. Tapi kalau abang udah selesai jangan lupa bagi-bagi ya” sahut Bang Malik, ia dan kawan-kawannya mundur, memberi ruang bagi bang Somad.

“Iya lah pasti…gua kasih kalau gua udah puas ngentot sama si amoy cantik ini”

Jawaban Bang Somad disambut senang oleh Malik dkk.

“Gila ini lobang, bagus amat ck ck ck seumur-umur baru kali ini gua ngeliat isi memek Cina…”

Mata Somad melotot melihat isi vagina Erika yang berwarna merah muda, aromanya yang harum karena terawat membuat nafas Somad memburu. Dengan rakus mulut Somad melumat-lumat vagina Erika. Rintihan Erika membuatnya semakin liar dan beringas menikmati vagina gadis itu. Lidah Somad menusuk-nusuk dan mencokel – cokel daging mungil milik Erika.

“Hssshshhh.. Hssssshhhhh ahhh!!” Erika mendesis dan mendesah.

Permainan Bang Somad membuatnya kewalahan, geli tapi nikmat, risih tapi ingin lebih sementara keempat orang laki-laki berwajah beringas lainnya beserta Mang Dodi menonton dengan penuh nafsu, selentingan-selentingan nakal terdengar di antara mereka.

“Kasih bang !! kasih..!!” Jarot berteriak kemudian terkekeh.
“Hihhhhh…..”

Dengan sekali sentak, Bang Somad menusuk vagina Erika.

“Aduhhh…!!” Erika memekik keras, setengah penis terbenam dalam vaginanya.
“Ha ha ha ha ha…” Suara tawa menggelegar “ahh aaa aaaa ahhhhhhh…uuhhuyyy…amoy emang emoy!!”

Tubuh Erika terguncang hebat. Mata sipitnya menatap mang Dodi yang asik mengabadikan persetubuhan liar antara Erika dan Mang Somad dengan menggunakan kamera saku. Erika mengerang menahan pompaan kasar dari Bang Somad.

“unnhh hsssshhh ahhhhhhh…..” nafas Erika tertahan, denyut-denyut nikmat membuatnya terkulai diiringi sorak sorai keempat orang laki-laki beringas yang menyemangati Bang Somad yang menyerang dengan lebih gencar.

Suara erang, rintih dan pekik Erika membuat bang Somad bergairah luar biasa. Suara becek terdengar keras saat Bang Somad memompakan batang penisnya ke dalam vagina Erika. Bosan dengan posisi missionary dan kemenangan gemilang atas orgasme Erika, Bang Somad menyuruh Erika untuk menungging.

“Wuihh !! Bulet padet !! Mantap ini!!” Bang Somad memuji sambil menampar buah pantat Erika.

Cairan orgasme Erika meleleh pada paha bagian dalam, tangan Bang Somad mengusap keringat di punggung Erika kemudian meremas-remas buah pantatnya sebelum akhirnya ia menggesekkan ujung penis pada belahan pantat Erika yang hangat.

“Akkkhhh !! Aduh-duh.. Awwwww.. sakit bang..” Erika mengaduh dan memekik kesakitan.

Anus yang masih lecet karena kemarin diperawani sopirnya kembali dikuakkan oleh sebatang penis yang lebih besar dari milik mang Dodi. Suara erang Erika membuat jantung para lelaki di tempat itu berdegub dengan lebih kencang. Mang Dodi menjepretkan kamera sakunya pada wajah Erika , mengabadikan ekspresi wajah cantik yang sedang kesakitan kemudian bak fotografer mengambil pose Erika yang sedang menungging ditusuk oleh penis Bang Somad.

“sebentar bang…, saya pindahin dulu handycam nya..” Bang Dodi memindahkan handycam second yang dibeli dari sebuah counter di pusat perbelanjaan elektronik terbesar di kota Bandung, sebuah tripod menyangga handycam second yang masih berfungsi dengan baik.

“Aduh , aduh .. ahh ahh akhh awwww…” Erika mengaduh dan memekik kesakitan, tubuhnya tersungkur maju mundur mengikuti gerakan batang penis Bang Somad yang bergerak kasar menyodomi anusnya.

Wajah Erika dalam derita diabadikan dengan sejelas-jelasnya oleh sebuah handycam dan jepretan – jepretan kamera saku di tangan mang Dodi.

“Aduh sakit-s-sakit , T-tolong mang Dod.. Tolong…” Erika memohon pertolongan mang Dodi yang terkekeh padanya.
“Aduhhh !! Ampun Bang ampunnnhh akhh arrrrrhhh…”

Kasar sekali Bang Somad menumbukkan penisnya. Suara benturan buah pantat Erika dengan bagian bawah perut Bang Somad terdengar keras seperti suara tamparan. Jerit dan tangisan Erika terdengar di antara suara tumbukan-tumbukan penis Bang Somad yang mencecar dengan gencar. Mata Erika yang sipit terbeliak-beliak akibat rasa sakit yang tak tertahan. Suara merdu Erika terdengar sedikit serak akibat terlalu sering dan terlalu keras menjerit.

“UNGGHH !! Anjing !!” Bang Somad mengumpat, spermanya muncrat dalam anus Erika, batang penisnya berkedut-kedut , layu dan mengkerut, tubuhnya yang gempal ambruk menindih tubuh mungil Erika.

Erika merintih kesakitan saat gigitan gemas Bang Somad menancap di bahunya setelah itu barulah Bang Somad mengangkat tubuhnya dari tubuh Erika.

“Aduhhh.. jangannnn….” suara Erika kembali terdengar, empat orang laki-laki dengan wajah beringas menyerbu menggeluti tubuh mulusnya yang berpeluh, tidak ada seincipun tubuh Erika yang lolos dari gerayangan-gerayangan tangan keempat lelaki itu yang menggerayang penuh nafsu binatang. Buah dada Erika yang bulat padat menjadi sasaran empuk bagi mulut orang-orang gunung yang begitu bernafsu padanya.

“Sudah bang , jangan.. nggak kuat…” Erika menolak saat dipaksa menaiki batang penis Bang Jarot.
“Tinggal naek !! Susah amat sih !!” Jarot yang terlentang membentak Erika.
“Ha ha ha ha” suara tawa menggelegar mendengar gerutuan Jarot.

Dibimbing oleh tiga orang laki-laki Erika naik ke atas penis Jarot, tangan jarot mengusap-ngusap paha, pinggul dan meremas-remas payudara Erika. Saat merasa ujung penisnya mulai tenggelam dalam vagina, dengan gerakan mendadak Jarot mengangkat penisnya ke atas, tanpa ampun penisnya melesat menusuk vagina Erika.

“Aaaaaa.. ahhhhh….”

Tubuh mulus Erika pun menggelinjang dalam pelukan Jarot. Saat itu Malik yang tidak tahan mengarahkan penisnya ke pantat Erika

“Aduh..!!jangan bang..!! tolong jangannn…” Erika memohon saat Bang Malik mulai melakukan penetrasi ke duburnya
“AWWWWWWWW….” jerit Erika terdengar keras saat anusnya ditembus penis.

Baru untuk yang pertama kali Erika merasakan dua batang penis menusuk anus dan vaginanya sekaligus. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, harga dirinya direndahkan serendah-rendahnya di hadapan para laki-laki di tempat itu. Mang Dodi melotot dengan wajah mesum ia kembali sibuk menjepretkan kamera di tangannya untuk mengabadikan obsesi dari angannya yang terliar, Erika yang cantik mengerang disandwich oleh dua orang laki-laki berwajah beringas.

“Aduhh !! AOWWWW…!!” Erika menjerit dan memekik keras saat dua batang penis bergerak seolah sedang saling berlomba mencari kenikmatan dalam anus dan vaginanya.

Erika melenguh keras dalam rasa malu, ia dipermalukan semalu-malunya oleh Malik dan Jarot yang kasar dan beringas menghujamkan batang mereka ke dalam kedua lubangnya. Jerit dan pekik dalam rasa malu dan rasa direndahkan akhirnya berakhir dengan kepasrahan saat Erika merasa kedutan-kedutan nikmat yang menyebar ke seluruh tubuh. Dalam kepasrahan Erika merengek.

“He he he… nih susu buat yang mau…”

Malik menarik bahu Erika agar posisinya duduk menjengking ke belakang, otomatis buah dadanya membusung menggairahkan. Dua mulut mengejar mengecupi buntalan buah dada kemudian menghisap kuat puncak payudaranya. Bergantian Toto dan Kardi melumat dan mengulum bibir Erika, tangan mereka tak henti meremas buah dada yang membusung itu. Erang dan ringisan menabur sensualitas di wajah cantik Erika yang sedang dikeroyok oleh empat orang laki-laki berwajah buruk yang menuai kemenangan gemilang atas orgasme yang dialami Erika hingga penis Malik dan Jarot memuntahkan sperma panas dalam anus dan vaginanya.

“Sini cantik biar abang gendong…” Toto dan Kardi terkekeh menggoda Erika

Penis kardi mengait vagina Erika dalam posisi menggendong berdiri berhadapan, reflek kaki Erika mengapit pinggang Kardi. Tidak berapa lama penis Bang Toto menusuk anusnya. Anus dan vagina Erika kembali menjadi bulan-bulanan dua batang penis yang bergerak dengan teratur menusuki liang vagina dan anusnya. Erika mengalungkan kedua tangannya pada leher Kardi, ia menyambut lumatan bibir laki-laki itu sesekali Erika menoleh ke belakang untuk berciuman dengan Bang Toto. Entah sudah berapa kali vaginanya berkedut dalam nikmat orgasme sebelum akhirnya diiringi suara lenguhan panjang wajah cantik Erika menengadah ke atas langit saat ia tersiksa dalam buaian puncak klimaks bersamaan dengan semburan sperma panas Bang Toto dan Kardi. Mang Dodi tersenyum lebar menyaksikan tubuh Erika yang putih mulus merosot turun. Erika kecil yang kini tumbuh menjadi seorang remaja cantik terkulai dengan tubuh basah berpeluh dibawah kaki lima orang laki-laki berwajah sangar yang terkekeh puas menikmati kemudaan dan kemulusan tubuh moleknya. Tiga batang penis yang masih berdiri perlahan turun. Bang Somad , Bang Jarot, dan Bang Malik menembakkan spermanya pada wajah, payudara dan perut Erika. Sebentar saja Erika sudah belepotan cairan putih susu berbau menusuk itu. Mang Dodi mendekatkan kameranya ke wajah Erika.

“Gimana Non? Enak ga?” tanya Mang Dodi

Erika hanya mengangguk dengan senyum lemas. Ia menelan sperma dalam mulutnya agar tidak terlalu tersiksa dengan aromanya yang tajam. Terus terang, walaupun merasa dipermalukan namun dalam hati kecilnya ia mulai menyukai dan sangat menikmati suasana tadi.

“Lain kali mamang ajak entotan lagi Non mau kan?” tanya sopir itu lagi
“Mau…mau Mang” jawabnya. Vilapoker.com


Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos

Dodi, seorang pribumi bertubuh kekar dengan wajah ramahnya menyambut seorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk di dalam. Dengan hati-hati ia menutup pintu kembali, setelah itu ia duduk di belakang kemudi.



“bagaimana sekolahnya non ??” Mang Dodi bertanya sambil menyalakan mobil.
“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi aku..dll dstt dsttt”

Cerita Sex Ngentot Anak Bos – Erika curhat kepada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang.mendengarkan curhat dari Erika. Memang sudah lama mang Dodi bekerja di keluarga Erika, semenjak Erika masih duduk di kelas TK kecil, mang Dodi sudah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik melihat paha mulus yang tersembul, mau tak mau sebagai laki-laki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir melihat kemulusan paha putih yang mengkilap.

Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos

“pokoknya hari ini aku sebeeeeelll banget mang Dod , bete deh..” Erika mengakhiri keluhannya.
“ya sudah.. betenya jangan lama-lama non, nggak baik…”

Mang Dodi menghadap ke depan dan mulai menginjak gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Erika pulang ke rumah dengan selamat. Seorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh dan yang seorang lagi sibuk berkiri kiri dan berkanan-kanan memandu mobil mewah itu. Erika turun dari mobil kemudian mengangguk ramah kepada dua orang jongos yang menyapa, Mang Dodi mengekori dari belakang mengikuti Erika masuk ke dalam rumah mewah yang sepi dari yang namanya “keluarga” . Mata Mang Dodi menikmati goyangan pinggul Erika. Masih terbayang saat Erika masih TK dulu, ia sering duduk di pangkuannya dan Erika tertawa saat mang Dodi menggelitiki dan mencubit hidungnya yang mancung. Masih teringat dengan jelas saat Erika keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Erika kecil berlari kepangkuannya dan menangis sambil berkali-kali menunjukkan bebek karetnya

“mang Dod , bek mati.. hu hu hu” , mata mang Dodi melotot bukan ke arah bebek karet yang menciut namun melotot ke arah selangkangan Erika kecil. jarinya hendak menyentuh bibir vagina Erika yang masih sangat suci. Tiba-tiba seorang perempuan tua menerobos masuk membawa belanjaan.
“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah karena Mbak Ijah muncul tiba-tiba.
“Dodi mengapa non Erika menangis ?? kamu apakan hah !!” Mbok Ijah menegur Dodi , matanya menatap curiga.
“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii…..” Erika berlari kearah Mbok Ijah.
“Ohhhh, bebek.. mana sini , biar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Erika tersenyum senang.
“Mang.. Mang Dod, mang Dod !! MANGGG !!!” Erika berteriak keras.
“Uhhh.. e- ehh iya non kenapa ?? ada apa”


Kenangan masa lalu Mang Dodi buyar seketika, ia mengejar ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi melihat Erika mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi berlari menghampiri.

Mang Dodi “kenapa non ?? kenapa…”

“i-i-itu mang .. itu…”
“yiahh si non, cuma beginian, mang Dod kira ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Erika.
“Uhhh…. “ Erika bernafas lega.
“Nihh uletnya !!” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Erika
“Awwww… e-ehh mang bawa kesana ah!! Yee mang Dod !! awas ya!!” Erika merengut, mang Dodi tertawa.
“mang beliin air kelapa dong…” Erika mengeluarkan uang dari dompetnya.
“iya…, tapi traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.
“Iya.. pokoknya beres…” Erika tersenyum.
“Asikkkkkk….. makasih non…, Non Erika emang paling baek dah” Mang Dodi memuji.
“udah , nggak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Erika tersenyum manis.
“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab dan segera berlari.

Di pinggir kolam renang, dua kursi mengapit sebuah meja bunda dengan sebuah payung yang menaungi. Sementara di tempat yang teduh berjajar kursi santai panjang. Di situlah Erika duduk bersantai melepas kepenatan di atas kursi santai panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk ke dalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.

“ohhh mang Dodddd….”

Bibirnya mendesis saat angan membawa Erika menuju sebuah tempat membayangkan nikmatnya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi sangat lugu sedangkan Erika sendiri sangatlah liar hingga mang Dodi mengerang meminta ampun menghadapi keliaran Erika. Darah muda Erika mendidih seliar angannya.

“Emmm…..” tubuh Erika mengerjat menahan nikmat.
“Ahh !!”

Rasa Nikmat disusul dengan terkejut. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Erika menunduk dengan wajah merah padam, malu bukan main, untuk yang pertama kali mang Dodi memergokinya sedang bermasturbasi. Wajah mang Dodi juga sama, merah padam karena nafsu yang memuncak. Angannya kembali ke masa lalu saat ia melihat Erika kecil telanjang bulat dan berlari ke pangkuannya. Mang Dodi tidak tuli, jelas-jelas ia mendengar Erika mendesis memanggil namanya, tidak perlu diragukan lagi, laki-laki dalam khayal Erika adalah dirinya. Setelah menaruh air kelapa di atas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.

“Non Erika….” dengan memberanikan diri mang Dodi mengelus betis gadis itu. Karena tidak mendapat penolakan dari Erika , mang Dodi semakin berani, tangannya mengelus ke atas mengusap paha putih mulus. Reflek Erika mengapitkan kedua pahanya saat tangan mang Dodi mengusap paha bagian dalam.
“mang Dod…” Erika merintih dalam gejolak darah mudanya.

Matanya menatap sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tak beraturan dan berat. Tubuhnya yang masih awam menggelinjang dan menghangat. Tubuh Erika rebah di atas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.

“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Erika merintih saat mang Dodi menjatuhkan wajah pada kain segi tiga putih di selangkangannya.

Tubuh Erika gemetaran seperti sedang meenjalani terapi listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepaskan nikmat dan nafsu yang sempat tertahan. Tangan Erika membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang hampir keluar saat lidah mang Dodi menyelinap melalui pinggiran celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.

“Achhh…!” Erika mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.
“E-Ehhh mang Awww…” Erika memekik kaget saat mang Dodi menjabret celana dalamnya.
“Hussshhh jangan keras-keras non…, nanti kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.
“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Erika cemberut, ia bangkit sambil menarik rok seragamnya ke bawah.
“supaya lebih asik non.., percaya deh sama mang Dodi..”

Mang Dodi menjatuhkan Erika kembali ke atas kursi, tangannya menarik rok seragam Erika dengan paksa ke atas. Mulutnya mengejar belahan bibir vagina Erika , gadis itu panik menggeser-geserkan pinggulnya menghindari mulut mang Dodi.

“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”

Tubuh Erika lemas di atas kursi. Kecupan dan hisapan rakus mang Dodi membuat gairah darah muda Erika kembali bergejolak, tubuh Erika menggelepar dan melenting menikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.

“Aaaaa.. ahhhhhh…..” Erika mendesah

Cairan orgasmenya tumpah kedalam mulut mang Dodi yang rakus menghisap-hisap vaginanya. Erika merintih tak berdaya, selama ini dalam khayal memang dirinyalah yang liar dan mang Dodi yang lugu dan lemah namun pada kenyataanya justru sebaliknya. Dengan Mudah mang Dodi memeras cairan vagina Erika bersama dengan luapan kenikmatan. Erika tak melawan saat mang Dodi meloloskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Hanya bra dan pakaian seragam yang melindungi kemulusan tubuh Erika dari mata mang Dodi.

“Non Erika cantik sekali..”

Mang Dodi membopong tubuh Erika, dengan santai ia membawa Erika masuk ke dalam rumah, lalu menaiki anak tangga dan membawa nona majikannya masuk ke dalam kamar. Semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu, suasana rumah menjadi sepi. Erika salah tingkah saat mang Dodi mendudukkannya di pinggiran ranjang sedangkan mang Dodi duduk di sampingnya. Bibir tebal mang Dodi mengejar Bibir Erika, dengan mudah mang Dodi merampas Ciuman pertama Erika.

“Emhh…” Erika menarik bibirnya, ia menatap sopirnya itu dengan mata sayunya saat tangan kekar mang Dodi melucuti kancing baju seragamnya setelah itu menarik kedua cup branya ke bawah

Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar menatap nanar keindahan sepasang payudara Erika, ia telah menjadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Erika. Dada yang semula rata kemudian mulai berkembang dan terus berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Setelah melepaskan baju dan celana panjang dan celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut di hadapan Erika, ia mengusap-ngusap paha mulus Erika yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat dan mengulum bibir Erika, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku tubuh Erika yang menggeliut-geliut tak bisa diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu dan mengecup ke arah buntalan buah dada sebelah kiri.

“mang….ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Erika merengek manja.

Mulut mang Dodi mengunyah puncak dada. Ke mana Erika berusaha menarik dadanya ke situ pula mulut mang Dodi mengejar. Tak ingin ia melepaskan puncak buah dada Erika dalam mulut, bahkan saat punggung Erika jatuh ke belakang, mulut mang Dodi segera mengejar buah dada yang hendak melarikan diri dari mulutnya. Sambil terus menggeluti buah dada Erika mang Dodi menggusur tubuh mulus Erika yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.

“Aaaa. Aah !! hsssh nnnnnhhh” Suara desah tertahan dan rintih kecil mewarnai cumbuan-cumbuan mang Dodi yang semakin panas

Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan berbeda ras yang tengah asik menjalin hubungan terlarang. Menggelinjang tubuh Erika dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi. Erika yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih dan mendesah dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi yang meneduhinya.

“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”

Erika gelisah saat merasakan tekanan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Erika yang berusaha mendorong dirinya, entah kenapa ada rasa takut yang mencekam saat Erika melihat mata mang Dodi yang liar.

“Ahhh..!!” desah kecil Erika mengiringi tenggelamnya kepala penis mang Dodi.

Bibir vagina Erika yang mungil melingkari leher penis mang Dodi. Dari usia tentu saja usia Erika jauh lebih muda, dari warna kulit tentu saja kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Erika yang putih mulus, dari wajah sudah tentu wajah beringas mang Dodi menang atas cantiknya wajah Erika. Sekali lagi mang Dodi menekankan penisnya dengan kuat dan Erika mengerang. Entah sanggup atau tidak vagina Erika menampung batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul dan Erika mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek dan selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.

“Aduh mang Dod !! Aduh!!sakit ! sakit mang Dod !! sakit !!” tangan Erika menggapai-gapai menahan pinggul dan dada mang Dodi.
“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!!” suara erangan Erika terdengar keras saat mang Dodi memaksakan seluruh batangnya masuk ke dalam vaginanya Vilapoker.com



Selangkangan mang Dodi dan Erika bersatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Erika. Nafas Erika terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret karena baru kehilangan keperawanannya. Selama ini belum pernah ada benda apapun yang melewati liang senggamanya.

“ Non Erika, memeknya enak amat, sebenarnya sudah lama mang Dodi pengen nyolok memek Non Erika, siapa sangka hari ini Mang Dodi bisa melakukannya, percayalah sama mang Dodi Non, sebentar lagi tubuh Non bakal tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.
“Hsssshhh ahh !! aduh mang.. hsssshhhh!!” Erika mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.
“Auw-hhh..!!”

Berkali-kali mata sipit Erika membeliak saat mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Erika merinding mendengarkan geraman mang Dodi, otot perutnya serasa kram saat batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan dan lumatan gemas mang Dodi pada bibir Erika yang merekah membuatnya semakin kewalahan.

“Ahhhhh…..”

Mata Erika Nanar, ada rasa nikmat luar biasa menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kali ia merasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasanya seperti jiwa terlepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.

“mang Dodddddd….ahhh enak mangggg” erangnya

Erika mulai meladeni kecupan dan cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyambut bibir mang Dodi, kedua tangannya memeluk tubuh kekar yang sedang giat bekerja menumbukkan batang penis ke dalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya hingga terlepas dari vagina kemudian kembali mencoblos liang vagina Erika. Kemudian ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu dan dicabut lagi.

“ahhh, manggg.. jangan digituin… mang dod..” Erika merengek manja.
“abis harus digimanain dong ?” Mang Dodi bertanya

Wajah Erika merona karena terangsang berat sehingga menambah cantik wajahnya.

“Ayo , Erika bilang sama mang Dod, harus digimanain.” Mang Dodi sengaja menggoda nona majikannya.
“emmm.. digituin mang…” Erika tersenyum malu.
“digituin gimana yach ? mang Dodi nggak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.
“Ahhnnhh mang Dod jahat !!” Erika mencubit dada mang Dodi.
“ADOWHH…!!” Mang Dodi mengaduh kesakitan.
“Hiaaaahhh…!!” Erika mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mang Dodi.

“Eiiiiitttttt…”

Mang Dodi menangkap tubuh Erika. Dua insan berbeda ras itu bergulingan dan kembali bercumbu mesra layaknya sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggiran ranjang, Erika berdiri memperhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Erika untuk berlutut di hadapan batang penisnya.

“Nah sekarang Erika jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Erika.
“jijik mang.. ihhh…” Erika masih jijik dengan batang mang Dodi.
“Loh kenapa harus jijik, coba dulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Erika.
“iii – ihhh ngak mau ah , bau” Erika menolak sambil menutup hidung dengan tangan.
“Ayo .. cobain… dulu…”


Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Erika. Dengan rayu dan sedikit paksaan akhirnya mang Dodi berhasil menjejalkan kepala penisnya ke dalam mulut Erika. Sang sopir merem melek keenakan.

“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sambil membelai rambut Erika.
“Emmm. Mmmhh..” Erika tak habis pikir, mendadak ia menyukai bau penis mang Dodi, senang menghisap dan juga senang menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut pelampiasan dari kesepian dan kejenuhannya selama ini. Dari seks pertama dengan sopirnya ini ia merasa mendapat pelampiaskan atas seluruh rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Sesekali Erika mengangkat wajah cantiknya menatap mang Dodi yang tersenyum kemudian ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Erika mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelum akhirnya mang Dodi membimbingnya untuk menduduki batang penisnya dengan posisi tubuh Erika memunggunginya.

“jangan takut Non.., dudukin aja.., ntar juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Erika untuk turun.
“sebentar mang, Erika takut…”

Setengah mati Erika mengumpulkan keberanian.

“rileks aja, anggap aja Non Erika lagi duduk di pangkuan mang Dod, dulu kan waktu masih kecil non Erika sering duduk di pangkuan mang Dodi”

Mang Dodi mengecup punggung Erika perlahan. Dengan hati ragu Erika menurunkan vaginanya. Mang Dodi membimbing Erika untuk belajar memasukkan penis ke dalam liang vaginanya.

“ih..”

Erika mengangkat pinggulnya kembali saat ujung penis mulai tenggelam ke dalam belahan vagina. Geli rasanya saat kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Erika mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kali ini ia menahan rasa geli yang menggelitik saat kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar seluruh tubuh Erika menahan sensasi nikmat saat penis mang Dodi tenggelam semakin dalam.

“Ohh mang Dod…!! Mang Dod..”

Wajah Erika terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan dan meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah luar biasa Erika menggeliat, tubuhnya mulai bekerja mengikuti panduan dari mang Dodi yang terus mengajari sambil memainkan buah dada Erika. Belum begitu lama Erika menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut , rasa nikmat dimulai dari daerah panggul kemudian menyebar ke seluruh tubuh moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat tubuh Erika yang tengah orgasme. Sebuah gigitan gemas bersarang di pundak Erika meninggalkan bekas gigitan merah. Tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Erika, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.

“Ohhh !! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”

Tubuh Erika melambung turun naik di atas tubuh mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada mengikuti tubuhnya yang melambung-lambung. Suara derit ranjang mengiringi suara nafas berat, desah dan rintihan Erika dalam kamar, suara geram gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela kesibukan meluncurkan batang penisnya ke atas pada sebuah lubang mungil yang menjadi target bulan-bulatan penis besarnya. Wajah Erika seperti tengah menahan derita, namun sebenarnya bukan derita yang sedang dirasakan olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras hingga terasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berkali-kali Batang penis besar milik seorang sopir bernama Dodi menuai kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Erika. Sebelum akhirnya penis besar itu mengisi liang vagina Erika dengan sperma. Hanya suara nafas Erika dan Mang Dodi yang terdengar memburu di dalam kamar. Dengan sebuah handuk mang Dodi mengeringkan tubuh Erika yang berpeluh. Hampir tiga jam lamanya mang Dodi menikmati sempitnya vagina dan kemulusan tubuh Erika. Setengah jam kemudian mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Erika yang termenung kebingungan. Baju piyama berwarna pink menyembunyikan tubuhnya dari ketelanjangan. Papa dan Mama Erika baru pulang jam 6 sore tanpa merasa curiga sedikitpun apa yang baru saja terjadi.
Beberapa hari kemudian, malam hari.

Pintu kamar Erika dibuka oleh seseorang yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, orang itu tidak lain adalah Mang Dodi yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar nona majikannya. Dengan wajah mesum ia mengunci pintu, di atas ranjang Erika menoleh kepadanya dengan wajah yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus tubuh Erika, setelah melepaskan sarung, kaos oblong dan celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi tubuh Erika yang masih terbalut piyama berwarna pink.

“Mang Dod.. emmm…” Erika mendesah menahan beban tubuh mang Dodi yang menindihnya,

Bibirnya menyambut bibir mang Dodi , mesra keduanya berciuman bagaikan sepasang pengantin baru yang berbeda usia dan ras dimana seorang dari ras mayoritas memangsa dan menikmati cantik dan mulusnya seorang gadis ras minoritas. Satu demi satu kancing baju piyama Erika terlepas, mata mang Dodi melotot melihat buah dada yang membuntal, padat dan kenyal terasa saat mang Dodi meremas buah dada sebelah kiri.

“Emmmhh mang Dod…”

Erika menggeliat – geliat resah, sementara mulut mang Dodi semakin rakus dan kasar menghisapi buah dadanya. Sesekali Erika merintih merasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.

“Ah..mmmmhhhh…”

Erika menggeser-geserkan tubuhnya, kemanapun tubuhnya bergeser kesitu pula kepala mang Dodi mengejar buah dadanya. Sepasang buah dada Erika yang ranum menjadi bulan-bulanan mang Dodi , begitu ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada dan menghisap kuat puncak payudara Erika, setelah puas menggeluti sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Erika. Setelah itu cumbuan mang Dodi merayap turun.pada leher, melewati belahan payudara, bermain pada perut dan pinggul dan terus turun mengejar milik Erika yang paling sensitif.

“Ohh Non Erika, indah sekali memek kamu Non…”

Mata Mang Dodi menatap tajam pada belahan bibir vagina Erika, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Erika menambah indah pemandangan di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Erika.

“Unnhhh .. ,aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Erika merengek saat hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menerpa vaginanya

Erika mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar seolah Erika ingin memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada mang Dodi. Tubuh moleknya melenting menggeliat dan menggelinjang dengan indah saat vaginanya menjadi santapan mang Dodi yang rakus.

“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” tiba-tiba Erika mendesis dan mendesah panjang, perutnya mengejang dan cairan vaginanya meluap bersama kedut-kedut orgasme

Begitu indah tubuh Erika terkulai dibawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi tubuh mulusnya. Suara desah tertahan sesekali terdengar di antara suara seruputan seorang laki-laki yang usianya berbeda jauh dengannya.

“Mang Dod ?? “

Erika tak mengerti ketika mang Dodi membalikkan tubuh mulusnya yang terkulai lemas dan mengikat kedua tangannya dengan menggunakan celana piyamanya. Setelah itu mulut Erika disumpal dengan menggunakan celana dalam dekil milik mang Dodi.

“Emmm!!” Erika berontak saat mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, kedua tangan mang Dodi menekan pundak Erika ia menunduk dan berbisik di telinga gadis itu.
“jangan berisik non, nanti kita ketahuan”

Bisikan mang Dodi ternyata sangat efektif.

“hmmmm hmmmmmm”

Erika berusaha menggelengkan kepala menolak keinginan mang Dodi. Nafas Erika seperti orang yang sedang sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih dan perih yang tak tertahankan saat ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.

“Uhhh Erika…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau

Otot anus Erika mengigit seputar ujung penisnya yang terbenam semakin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya hingga otot Erika melingkari leher penis mang Dodi. Kesenangan dan kenikmatan bagi mang Dodi harus dibayar mahal dengan kesakitan luar biasa bagi Erika.

“Emmmmmm !!! mmmmmhhhh”

Tubuh molek Erika mengejang kesakitan saat batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi demi inchi. Pandangan Erika mendadak gelap seakan hendak jatuh pingsan namun rasa sakit tetap membuat kesadarannya terjaga dalam derita.

“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Erika.. , sudah jangan nangisss… Sudah masuk semua…koq…”

Mang Dodi tersenyum merasakan empuknya buah pantat Erika bergesekan dengan bagian bawah perutnya. Batangnya yang panjang dan besar tertanam dalam anus Erika. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepaskan mulut Erika yang tersumpal.

“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali .. aduhhh…” Erika mengerang saat batang mang Dodi mulai bergerak seperti sebuah piston

Bisik rayuan-rayuan mang Dodi ternyata tidak sanggup untuk membayar rasa sakit yang dirasakan oleh Erika yang merasa “dipermalukan” dan “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Berbeda dengan apa yang sedang dirasakan oleh Erika, Mang Dodi merasa kesuperioran atas diri Erika. Ego mang Dodi sebagai bawahan/ sopirnya menimbulkan rasa bangga memangsa Erika sebagai nona majikan dan berdarah Chinese. Dengan teratur batang penis mang Dodi terus bergerak memompa Erika hinga puas. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Erika dari sumpalan celana dalam dekil milik seorang sopir kemudian menarik pinggul Erika agar gadis itu menungging dengan sempurna untuk permainan selanjutnya. Ujung penis mang Dodi mencari – cari belahan vagina Erika. Setelah dirasa pas, perlahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.

“Mmmmhhhh..” Erika merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat saat ujung penis mang Dodi menembus dan mengocok-ngocok liang vaginanya.

Mang Dodi terlihat lihat mencecar liang vagina Erika, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, dan mengocek. Dengan bimbingan dari mang Dodi, Erika mulai belajar, saat mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia mendesakkan pinggulnya menyambut tusukan penis mang Dodi. Untuk beberapa kali tusukan keras Erika masih dapat bertahan, namun untuk tusukan-tusukan berikutnya tubuh Erika mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan membuat kepalanya terasa ringan namun selain itu Erika merasa malu mendengar suara yang berasal dari vaginanya. Risih saat payudaranya yang tergantung terayun – ayun dan risih saat buah pantatnya beradu dengan bagian bawah perut mang Dodi.

“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Erika menenggelamkan wajahnya pada bantal.

Mang Dodi tersenyum, sebagai seorang laki-laki sudah tentu mang Dodi takjub pada kecantikan Erika. Terbayang olehnya wajah cantik Erika kecil yang lugu dan polos, selama tujuh belas tahun mang Dodi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perkembangan Erika kecil menjadi seorang gadis cantik bertubuh aduhai.

“Mang Dod.. Mang Doddddd….” Erika merengek perlahan.
“Ya Non ??” Mang Dodi menyahut.
“Pelan-pelan mang…” Erika meminta mang Dodi memperlembut tusukannya.
“Segini Non ??” Mang Dodi bertanya.
“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”

Tanpa sadar Erika merintih keenakan saat penis mang Dodi menusuk vaginanya. Begitu dalam dan lembut membuat Erika meringis dalam getar-getar kenikmatan yang berkedutan saat cairan orgasmenya kembali tumpah.

“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss !!” Erika merengek manja saat mang Dodi membalikkan tubuhnya kemudian menarik kedua kakinya yang mulus indah ke udara.

Satu tusukan kuat membuat tubuh Erika mengerjat, selanjutnya tubuh Erika terguncang mengikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit demi sedikit mang Dodi meningkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar memenuhi kamar tidur Erika. Ringisan Erika mengeksploitasi sensualitas wajahnya yang jelita. Erika menatap mang Dodi yang sibuk menjejal-jejalkan batang penisnya, mata laki-laki itu menatap tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Erika menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi terlihat kecewa, ia meletakkan kaki Erika di bahu dan kedua tangannya mencekal dan menarik kedua tangan Erika agar buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang membuat jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berkali-kali cairan orgasme Erika tumpah meluap sebelum akhirnya sperma mang Dodi muncrat mengisi vagina Erika. Tubuh Mang Dodi roboh menimpa tubuh molek Erika yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Erika yang sempit.

“mmmmhhh mang Dod…” Erika memeluk tubuh mang Dodi, keduanya berciuman lama dan mesra.

Setelah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya dan Erika pun tertidur kelelahan. Vilapoker.com


AgenBandarCeme - PROMO VILLAPOKER TERBARU

AgenBandarCeme - PROMO VILLAPOKER TERBARU Promo Terbaru Vilapoker Buruan Tunggu Apa Lagi Gabung Bersama Kami Banyak Bonus Menarik Unt...